Kenali Teroris agar Tidak Menjadi ‘Pengantin’

Life Skill pada tanggal 30 Juli diisi oleh seorang tokoh bernama ….Beliau adalah seorang lulusan…. Materi yang beliau sampaikan sangat menarik dan interaktif. Beliau juga menyampaikan beberapa trik dan strategi  yang digunakan teroris untuk merekrut calon anak buah mereka atau lebih dikenal dengan ‘pengantin’. Salah satu siswa maju ke depan dan dijadikan sebagai model untuk mempraktikkan bagaimana teroris merekrutnya.

Siswa tersebut bernama Reza, ia ditanyai beberapa pertanyaan yang mungkin membuat pikirannya jadi tidak stabil, hal ini seperti permainan pemikiran psikologi. Dari pertanyaan “Apa agamamu?”, “Sudah melakukan apa untuk agamamu?”, “Apa pedomanmu?”, “Mengapa saudara-saudara seagama dengan kita masih saja diperangi? Langkah nyata apa yang sudah kamu perbuat?” dan lain sebagainya.

Keadaan pemuda dengan emosional yang labil menjadi incaran mereka. Mereka dengan mudahnya ‘mencuci otak’ sehingga calon pengantin pemikirannya terpedaya dan akhirnya masuk ke dalam lingkaran terorisme. Dalih-dalih mendaoatkan balasan surga dengan segala kenikmatan membuat pengantin tidak merasa keberatan untuk menukarkan nyawa demi mendapat balasan yang diiming-imgin oleh para  teroris.

Pengetahuan dasar baik agama dan pemikiran secara universal dibutuhkan agar tidak mudah dipengaruhi. Karena Reza−siswa yang dijadikan model oleh narasumber−memiliki wawasan yang luas dan terbiasa dalam critical thinking membuat narasumber gagal untuk merekrut Reza menjadi pengantin ketika ditanyai beberapa pertanyaan yang membuat calon korban biasanya ‘terjebak’.

Selain kondisi emosional yang labil, pemuda yang memiliki banyak masalah dan kurang kasih sayang baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar juga menjadi indikator para teroris dalam merekrut pengantin. Peran keluarga sedini mungkin sangat dibutuhkan. Seperti pemahaman agama dan memberikan perhatian membuat jiwa dan pikiran seseorang menjadi stabil dan tidak mudah terpengaruh ke dalam hal-hal yang membuatnya terjerumus. Waspada terhadap sekitar, jika ada sesuatu yang membuat kita bingung, tidak ada salahnya berbagi cerita kepada orangtua atau saudara kita di rumah. (Labibah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *