SUASANA BARU BAGI SISWA SMA “Pemantauan dari tahun ke tahun”

Oleh: Alwiyah Bagir

Pemantauan dari tahun ke tahun di sma Lazuardi adalah bahwa setiap angkatan dan setiap anak punya karakteristik yang berbeda-beda. Ada angkatan yang menunjukkan semangat beraktifitas, ada pula angkatan yang sejak awal sudah menunjukkan sikap santai atau dalam bahasa anak-anak di sebut “mager” alias males gerak.

Kalau dipandang anak per anak, kita akan menemukan sifat dan pembawaan  yang berbeda-beda pula.  Ada yang langsung ‘perform’ dan terlihat penuh semangat, ada yang berwajah cemas atau sedih karena fokusnya lebih pada kekhawatiran tidak punya teman, takut kepada tata tertib dan aturan sekolah  dan juga takut kepada kakak kelas.  Padahal,  Sma lazuardi tidak mengakomodir  senioritas yang negatif antara kakak dengan adik kelas mereka.

Selain itu ada juga yang sibuk memikirkan bentuk tubuhnya yang kurang ideal, warna kulit yang terlalu gelap, jerawat di wajah dan seabrek masalah lainnya.

Setiap tahun , kami mengalami hal yang kurang lebih sama dengan hal-hal di atas. Namun, satu hal yang berbeda kini  adalah adanya program  pelatihan untuk siswa baru yang kami beri nama dengan Lazuardi Training Program (LTP).

LTP adalah program orientasi siswa baru yang benar2 berbeda dengan Ospek di sekolah-sekolah lain. Di pekan-pekan awal sekolah, siswa diberikan arahan tentang hal2 yang menjadi ciri SMA Lazuardi. Siswa diajarkan untuk selalu bertegur sapa, tersenyum dan berlaku sopan santun terhadap seluruh warga sekolah seperti guru, karyawan dan kakak kelas. Psikolog handal juga didatangkan untuk mengajarkan anak mengenal dirinya dan bersiap menghadapi tantangan hidup.

Ada lagi masalah lain yaitu peraturan dari  Departemen  Pendidikan Nasional di Indonesia sejak beberapa tahun belakangan ini, di mana siswa kelas X sudah harus dikelompokkan ke jurusan atau peminatan IPA atau IPS. Ini juga menjadi masalah bagi sebagian anak.

Untuk membantu siswa mengatasi  permasalahan- permasalahan tersebut, guru-guru dan management sekolah Sma Lazuardi  selalu membuka diri untuk semua siswa yang membutuhkan bantuan ketika mereka merasa tidak aman dan tidak nyaman dengan kondisi di sekitarnya.  Ruang guru yang berdinding kaca memungkinkan para guru untuk memantau kegiatan anak-anak di jam istirahat atau saat kegiatan ekstra kurikular berlangsung. Selain itu, dinding kaca ini juga memudahkan anak-anak menemukan gurunya saat mereka butuh bantuan. 

Karena, kami menyadari bahwa di usia ketika anak sma sedang dalam pertumbuhan terpesatnya, mereka  sering mengalami masalah yang sensitif  yang walau sebenarnya sederhana tapi terasa sebagai hal besar yang bisa membuat mereka bingung dan cemas. Bahkan terkadang ingin pindah sekolah. Mereka lupa bahwa di sekolah lain mereka akan menghadapi masalah lain. Jadi pemecahannya bukan lari dari masalah melainkan fokus dan selesaikan masalah.

Hal-hal seperti ini bagi para guru SMA Lazuardi adalah hal yang sudah biasa. Guru selalu menyediakan diri untuk menjadi tempat ‘curhat’ anak-anak remaja ini.

Semua ini sebenarnya adalah pengalaman baru bagi anak dalam usia pubertas. Mereka sedang mengalami proses adaptasi, baik dengan perubahan dalam dirinya maupun terhadap lingkungan sekitar, teman, kakak kelas, guru dan sekolah barunya.

Adaptasi adalah penyesuaian. Proses adaptasi menghasilkan pengalaman. Pengalaman adalah ilmu yang berharga. Karenanya,  para orangtua tidak perlu terlalu khawatir kalau anaknya menghadapi masalah di sekolah. Karena hidup memang banyak masalah. Inilah saatnya anak belajar.  Support adalah yang  ananda butuhkan  untuk menjadi tangguh dan berani menghadapi hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *