Belajar tentang Makna dari Viktor Frankl

 Kultum pagi oleh: Sayid Ali Ridho 

Tokoh kita ini adalah ahli psiologi kelahiran Austria keturunan Yahudi yang menjadi satu dari sekian orang yang keluar dengan selamat dari kamp konsentrasi nazi untuk orang2 Yahudi di berbagai wilayah di Eropa.

Sedikit cerita, beberapa bulan sebelum Nazi masuk mendekat Wina, Austria, Konsulat AS memberitahukan Viktor Frankl bahwa permohonan visanya untuk migrasi ke AS telah disetujui. Namun sayangnya, visa tersebut hanya berlaku untuk dia saja. Ini membuat Frankl dihadapkan pada pilihan sulit, apakah ia harus bermigrasi seorang diri ke Amerika Serikat, di mana ia punya kesempatan hidup aman dan melanjutkan embrio penelitian terbarunya di bidang psikologi—logoterapi, atau ia tetap tinggal di Austria bersama dengan orang tua dan keluarganya dengan risiko dijebloskan ke kamp konsentrasi Nazi, yang tidak ada jaminan akan selamat.

Bimbang tak tahu pilihan apa yang harus diambil, ia pun pulang ke apartemen tempat ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Frankl, yang saat itu menjadi kepala departemen neurologi sebuah rumah sakit Yahudi di Wina, melihat sekeping batu marmer tergeletak di meja apartemennya. Kepingan marmer itu ditemukan ayahnya dari reruntuhan sinagog terbesar Wina yang saat itu baru diruntuhkan oleh tentara Nazi. Ayahnya membawa pulang karena kepingan marmer tersebut membuat sebuah huruf Ibrani yang mewakili satu di antara sepuluh Tuhan. Karena penasaran, Frankl pun bertanya perintah Tuhan yang mana, dan ayahnya pun menjawab: “Hormati ayah ibumu agar lestari hidupmu di tanah yang diberikan Tuhan.” Jawaban itu membuat Frankl mantap untuk memutuskan tetap tinggal bersama kedua orang tuanya dan membiarkan visanya dan kesempatan emasnya untuk tetap hidup aman melayang.

Beberapa bulan setelahnya, Gestapo (tentara Nazi) menutup rumah sakit tempatnya bekerja dan ia dan seluruh keluarganya pun dikirim ke kamp konsentrasi. Ia memang berhasil selamat hingga perang berakhir, tetapi istrinya yang sedang mengandung, kedua orangtuanya, serta kakaknya meninggal di dekatnya.

Blessing in disguise, apa yang ia putuskan menjadi salah satu awal dari kegemilangan Frankel dalam mencetuskan satu teori psikologi. Tak ada yang tahu pula jika keputusannya untuk tetap tinggal di Austria membuahkan hasil yang manis baginya. Dengan dijebloskannya ia ke kamp konsentrasi Nazi, ia pun mendapatkan ‘laboratorium’ yang berguna untuk menguji dan membuktikkan penelitiannya tentang logoterapi yang membuat karirnya semakin meningkat.

Lalu, apa sumbangan terbaik dari teori Viktor Frankle untuk ilmu psikologi dan juga untuk kemanusiaan? Sejak buku Frankl pertama kali diterbitkan, Mans Search of Meaning, di tahun 1946, hal ini membawa sebuah paradigma baru dalam ilmu psikologi. Sebelum buku tersebut terbit, ilmu psikologi, baik di Eropa dan juga Amerika, lebih terfokus pada tema pemenuhan nafsu, yang merupakan ciri khas aliran Freudian dari Sigmund Freud. Berbeda dengan Freud, Frankl melihat, ‘ Tidak, , sepertinya tidak hannya nafsu, tapi pencarian soal kebermaknaan hidup.

Menurut Frankel, orang yang hidupnya berorientasi pada pencarian kebahagiaan malah rentan membawanya ke jalan yang sesat. Maka seharusnya manusia harus menentukan orientasi hidupnya untuk mencari makna hidup. Kalau kita mencari kebermaknaan hidup, maka hidupnya akan kaya, kita akan bisa mendapatkan kebahagiaan dari prosesnya, bukan dari dapat ini-itu, dimana kebahagiaan yang di dapat itu hanya sebatas efek samping.

Menariknya, teori logoterapi Frankel juga berkesesuaian dengan teori atau filsafat stoic. Filsafat stoisisme, atau kalau di Indonesia dikenal dengan istilah filsafat teras karena dulu Zeno dari Citium di tahun 300 SM ketika mengajar murid-muridnya selalu di teras rumah, juga menekankan pentingnya manusia untuk hidup selaras dengan reaitas eksternal di sekitarnya sehingga kebahagiaan datang kepada mereka, bukan justru mereka yang mengejar kebahagiaan itu sendiri.

“Nah selaras itu bagaimana? Stoicism melihat manusia punya dua tugas, yang pertama menggunakan nalar. Manusia itu hidup dengan akal budi, itu yang membedakan dengan binatang. Kalau itu tidak dipakai dengan baik, tak heran kalau ada orang yang marah-marah, sengsara, membandingkan hidupnya dengan orang lain dan stres sendiri. Selain menggunakan nalar, tugas lain manusia adalah hidup dalam harmoni dengan orang-orang di sekitar. Dengan demikian, Stoicisme mengajarkan manusia agar tidak hidup egois. Yang tentu saja akan sama jika kita gandengkan dengan ajaran agama.

Hal ini juga mengajarkan kita soal humansime. Bahkan di tengah kesulitan, jangan lupa ada orang lain. Kadang-kadang dalam penderitaan atau dalam kesusahan, kita jadi narrow-minded minded atau berpikiran sempit. Menurut orang Stoic, kalau kita memakai nalar dengan baik, menjaga hubungan kita dengan org lain, kita akan mencapai hidup baik itu. Nah, hidup bahagia itu cuma efek sampingnya. Dengan mencari makna hidup (will to meaning), manusia diharapkan bisa mengtahui bagaimana harus bersikap ketika merespon keadaan yang tidak menguntungkan.

Itu aja mungkin. Moga ada manfaatnya agar kita makin bahagia. (S. Ali Ridho)

Written by 

We are the IT Men of Laz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *