Belum Banyak Yang Paham Pembelajaran Berbasis STEM

Oleh: Agus Purwanto (Kepala Sekolah SMA Lazuardi)

Seminggu yang lalu saya dapat pesan singkat via What’s App dari Wakakur sekolah Negeri terbaik di kota Depok. Beliau meminta saya menjadi Nara sumber di kegiatan In House Training Pembelajaran Berbasis STEM. Tawaran dari Wakakur tersebut tidak bisa saya tolak karena sama sama sebagai sekolah yang sedang ditugasi oleh Direktorat PSMA Kemendikbud untuk melaksanakan program unggulan Kemendikbud dalam bentuk program bantuan Pemerintah SMA Zonasi.

Pada awalnya Direktur SMA Lazuardi agak khawatir dengan status Lazuardi sebagai SMA Zonasi yang terkesan mirip namanya dengan sistem Zonasi yang pernah memunculkan polemik. Namun, saya bisa menjelaskan ke Direktur SMA Lazuardi bahwa SMA Zonasi dan sistem Zonasi adalah dua hal yang berbeda.

Kemendikbud memiliki program-program peningkatan kualitas pendidikan, salah satunya adalah program SMA Zonasi, tahun lalu disebut sebagai SMA Rujukan, namanya berubah namun program-program sama ditembah 1 program baru yang namanya Pembelajaran berbasis STEM. Program kegiatan SMA Zonasi berisi beberapa In House Training terkait kebutuhan pengembangan pendidikan yang dibutuhkan saat ini. Program pengembangan pendidikan tersebut tidak hanya diperuntukan untuk sekolah SMA Zonasi yang bersangkutan, namun juga harus mengimbaskan program SMA Zonasi tersebut ke minimal 5 sekolah di sekitar wilayah sekolah SMA Zonasi.

Di sisi lain, sistem Zonasi lebih terkait dengan Penerimaaan Peserta Didik Baru (PPDB) ke sekolah Negeri berdasarkan zonasi tempat tinggal siswa dengan letak sekolah negeri yang dekat dengan rumahnya.

Salah satu dari program SMA Zonasi yang sedang disosialisasikan adalah terkait dengan Pembelajaran Berbasis STEM atau pembelajaran yang mengintegrasikan antara Sains, Tekhnologi, Engineering dan Matematika. Tujuan dari pembelajaran berbasis STEM tidak lain adalah mempersiapkan siswa menyiapkan dirinya untuk bisa berkarir berdasarkan skill yang dibutuhkan di abad 21.

Singkat cerita, di waktu yang sudah disepakati oleh SMA Negeri terbaik di kota Depok itu, saya seperti biasa hadir 1 jam sebelum kegiatan In House Training dimulai. Saya masuk ke sekolah tersebut dengan menyampaikan bahwa saya sebagai Nara Sumber di Kegiatan hari ini dan mereka menyambut saya dengan baik dan menempatkannya di ruang khusus. Sambil menunggu waktu, saya membaca slide saya agar makin memahami dan mempertajam pengetahuan saya mengenai materi yang akan saya sampaikan pada hari ini.

Beberapa menit kemudian datang panitia dan mempersilahkan saya memasuki ruang In House Training. Saat mempersiapkan lap top, saya dihampiri Bapak Kep Sek dan kemudian kami bersalaman dengan beliau. Beliau sudah sangat dekat dengan saya sehingga pertemuannya dilakukan dengan selingan canda dan tawa.

Kemudian Acara In House Training dimulai dengan diawali pembukaan oleh panitia dan sambutan dari WakaKurikulum. Selanjutnya, giliran saya memberikan training sekitar 4 jam. Dimulai dari jam 07.45 dan berakhir di Jam 11.45. Suasana training juga penuh kekeluargaan, sesekali saya mengeluarkan lelucon yang membuat peserta tertawa, dan ada celetukan juga yang dilontarkan oleh para peserta membuat suasana In House Training menjadi lebih hangat.

Jam 11.45, kegiatan In House Training berakhir dan ditutup dengan foto bersama guru-guru dari SMA tersebut dan beberapa guru dari sekolah imbas.

Sebelum pulang, saya diantar oleh WakaKur ke ruang Kepala Sekolah sekalian pamit. Wakakur menyampaikan ucapan terima kasih karena katanya sudah banyak diberikan wawasan terkait dengan Pembelajaran berbasis STEM. Di ruang Kepala Sekolah berlanjut pembicaraan mengenai problematika pendidikan yang dialami sekolah termasuk problem yang dihadapi SMA Negeri terkait dengan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang selalu direcoki oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Sebelum meninggalka sekolah tersebut, beliau menyampaikan rasa trima kasih karena saya sudah mengisi materi Pembelajaran berbasis STEM yang menurut pengakuannya ternyata belum banyak Nara sumber yang memahami pembelajaran berbasis STEM.
Rupanya, itulah salah satu alasan mengapa saya diminta menjadi Nara sumber Pembelajaran berbasis STEM di SMA Negeri terbaik itu karena belum banyak Nara Sumber yang memahami materi mengenai Pembelajaran Berbasis STEM.

Trima kasih ya Allah, Engkau telah memberikan nikmat yang tak terhingga melalui pengetahuan dan pengalaman tersebut.

admin

We are the IT Men of Laz

Leave a Reply

Close Menu