Lazuardi dan Syiah

Lazuardi dan Syiah

Oleh Jejen Musfah, Wali murid SMA Lazuardi

Benarkah atau bukankah Lazuardi itu syiah? Inilah pertanyaan yang kerap saya terima dari teman-teman karena menyekolahkan anak di sana.

Saya jawab sependek pengetahuan saya tentang Lazuardi juga sosok Haidar Baghir yang mana beberapa buku saya diterbitkan oleh penerbit grup mizan. Tak sering saya satu forum atau berjumpa dengannya.

Siswi bangun sebelum subuh. Mereka berangkat ke masjid tak jauh dari asrama. Salat sunah. Lalu salat subuh berjamaah. Hampir selalu memakai qunut. Tak ada paksaan harus qunut atau tidak. Imam salat bisa guru atau siswa.

Siswi sarapan di kantin. Mereka berangkat sekolah. Full day school. Salat zuhur dan asar berjamaah. Istirahat sebentar. Siswi salat magrib berjamaah. Membaca zikir dan membaca Alquran. Sampai waktu isya. Siswi salat isya berjamaah. Malam Jumat membaca Yasin dan salawat.

Siswi dan siswa salat di masjid yang sama. Itulah kegiatan di asrama SMA Lazuardi, sebagaimana dituturkan anak saya, Neila Atqiya. Kegiatan rutin siswi asrama di atas lebih mendekati tradisi pesantren NU.

Tidak diajarkan kitab atau ajaran mazhab tertentu kepada siswa-siswi. Pengetahuan agama siswi didapatkan di mapel PAI yang merujuk kepada kurikulum Kemenag RI.

Mengaitkan Lazuardi dengan syiah adalah fitnah. Bahwa beberapa siswa atau orangtua menganut syiah, iya. Sekolah menerima siswa apa pun mazhabnya dan ormasnya. Tak ada pertanyaan, apa mazhab orangtua siswa saat pendaftaran.

Berikut hasil riset saya pada 2019. Mayoritas orangtua santri Pesantren Persis di Bandung bukan Persis. Pesantren Darul Arqom Muhamadiyah garut mayoritas orangtua santrinya bukan penganut Muhamadiyah.

Kepala SMA Lazuardi Agus Purwanto menjelaskan, Pendiri Lazuardi Haidar Baghir, berulang menjelaskan dalam forum bahwa ia bukan penganut syiah. “Ayah dan Ibu, serta keluarga besar saya berasal dari kalangan Thariqah ‘Alawiyah yang lebih dekat kepada NU,” kata Haidar—sebagaimana dituturkan Agus.

READ  Dorm Activity : Bulan Bahasa

Tapi, pada saat yang sama lulusan Universitas Harvard, AS, ini terbuka untuk belajar dari berbagai kelompok Muslim, tak peduli apa pun mazhabnya. Karena bagi Haidar, kelompok-kelompok yang ada sebetulnya merupakan perwujudan mosaik pemahaman Islam yang kaya. Lebih dari itu, tutur Agus lagi, Haidar tak pernah mau berhenti memperjuangkan persaudaraan Islam di antara berbagai kelompok Islam itu.

Mayoritas siswa Lazuardi tidak tinggal di asrama. Siswa asrama pun disarankan atau diperbolehkan pulang ke rumah setiap Jumat sore, dan kembali ke asrama pada Minggu malam. Karena itu, keagamaan siswa-siswi lebih dipengaruhi oleh kedua orangtua atau sekolah sebelumnya; atau akan dipengaruhi oleh guru Lazuardi dan orangtua. Tinggal mana yang lebih berperan di antara keduanya.

Menurut saya, Lazuardi tidak berusaha menanamkan mazhab atau aliran tertentu dalam Islam kepada siswa-siswinya. Mereka dipersilahkan salat dan beramal sesuai kepercayaan mazhab masing-masing. Yang pasti Lazuardi menyatakan diri sebagai Sekolah Welas Asih.

This slideshow requires JavaScript.

admin

We are the IT Men of Laz

Leave a Reply

Close Menu