Logotherapi, Stoic dan Tasawuf

Kultum pagi oleh: Sayid Ali Ridho

Sebeum ini, kita sudah mengupas sedikit tentang teori Logotherapi dari Viktor Frankl tentang upaya manusia mendapatkan kebahagian dengan pencarian makna dari tiap tindakannya agar manusia bisa lebih bahagia dalam hidup. Kita juga bicara tentang filsafat stoicism, yaitu bahwa manusia punya dua tugas di dalam hidupnya: menggunakan nalarnya dengan baik dan hidup selaras dengan realitas di luar dirinya agar mendapatkan kebahagiaan.
Pada kesempatan ini kita akan membahas tantang makna tasawuf yang juga dalam usahanya yang sama untuk proses pencarian makna hidup agar hidup manusia lebih bahagia.

Perkembangan manusia saat ini dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sudah sangat maju dibanding ratusan tahun lalu, seperti misalnya perkembangan ilmu pengetahun tentang virus. Jika merujuk kepada pencatatan korban dari berbagai penyakit yang di sebabkan oleh virus yang muncul sebelumnya, kita dapatkan angka yang sudah sangat berkurang. Pada abad ke-14 lalu saat terjadi wabah Black Death, wabah itu menewaskan lebih dari 75–200 juta orang dalam waktu singkat. Perhitungan itupun hanya untuk wilayah Eropa dan Afrika Utara.

Lalu wabah flu Spanyol menewaskan 40 sampai 50 juta orang hanya dalam dua tahun, antara tahun 1918 dan 1920. Menurut sejarawan, jumlah korban wabah ini lebih banyak di banding kejadian yang mengapitnya yaitu Perang Dunia 1 dan 2. Saat ini kita dihadapkan pada pandemi baru bernama Covid-19 yang telah terjadi kurang lebih 2 tahun ini dan sejauh ini hingga akhir tahun lalu sudah menelah korban hanya, tanpa bermaksud mengecilkan jumlah orang yang wafat, sebanyak 5.392.592 yang meninggal dunia. Merujuk pada data di atas, hal ini menunjukkan satu contoh bahwa telah terjadi akselesari dalam berbagai penemuan baik sains dan teknologi yang sangat cepat dan pada gilirannya membantu manusia.

Akselerasi ini bukan tidak mungkin membuat manusia merasa superior. Manusia merasa memiliki kekuatan yang bebas dari segala kekuatan yang berada di luar dirinya dan ini terjadi lewat pengetahuan rasionalnya. Kemampuan yang lepas dari dogmatisme agama. Manusia seakan digiring untuk hanya memikirkan dunia saja. Pada gilirannya, pikiran manusia menjadi bebas dari segala macam religi, kepercayaan dan segala yang yang di anggap irrasional. Mereka lalu mendikotomi sesuatu dengan diksi logic dan magic. Manusia menjadi tidak lagi berterima-kasih kepada Tuhannya, tetapi berterima-kasih kepada kemampuan dan otonominya sendiri sehingga terjadi ‘kultus persona’. Ia merasa mampu menyelesaikan berbagai persoalan hidupnya dan memandang independen dari apa yang di sebut Tuhan dan alam serta merasa segalanya berpusat pada dirinya. Ini yang kemudian menjadi apa yang disebut sebagai sekularisme. Sebuah isme yang memisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan.

Namun, karena kepercayaan yang berlebihan terhadap status dan kemampuan yang dimilikinya, manusia modern telah menyebabkan dirinya terpelanting dari “lingkaran eksistensi”. Akibatnya, manusia modern dihadapkan pada persoalan baru tentang bagaimana menemukan dunia dan memaknainya. Rasio (pengetahuan) yang pada awalnya dipercayai dapat menjadi arah bagi penemuan dunia dan makna hidup, pada kenyataannya tak mampu memberikan jaminan yang memuaskan. Rasio telah menyebabkan manusia teralienasi dari dirinya sendiri. Sayeed Hussein Nasr mengatakan bahwa hal ini terjadi karena manusia lupa bahwa ia secara eksistensi adalah seorang hamba di hadapan Tuhan. Akibatnya ia cenderung tidak mampu menjawab berbagai persoalan hidupnya dan pada gilirannya terperangkap dalam kehampaan dan ketidakbermaknaan hidup.

Keadaan ini dalam sosiologi di sebut sebagai alienasi. Suatu kondisi di mana manusia tercerabut kemanusiannya dan terperangkap dalam keterasingan. Hal ini terjadi karena pertama terjadi perubahan yang sangat cepat dan ia tidak mampu mengikutinya, hubungan antar manusia yang gersang, masyarakat tempat tinggalnya menjadi sangat heterogen dan berikutnya stabilitas sosial berubah menjadi mobilitas sosial.

Masalah ini merupakan masalah kejiwaan yang, tentu saja, manusia berperan sebagai penyebabnya. Dalam pemahaman tradisi spiritual islam (tasawuf), derita manusia modern ini sebenarnya dapat “diselesaikan”, yaitu dengan melakukan pendekatan “transendensi”. Sebuah kesadaran yang mengimani bahwa kehidupan ini tidak hanya berhenti pada realitas profan tapi berpuncak pada realitas yang mutlak. Lebih dari itu, transendensi adalah proses dan upaya menemukan Tuhan karena Ia dimaknai sebagai tujuan akhir.

Keyakinan dan perasaan akan Tuhan inilah yang akan memberikan kekuatan, kendali dan kedamaian jiwa seseorang sehingga manusia merasa senantiasa berada dalam radar Tuhan. Pada gilirannya, hal ini berdampak konkret terhadap peningkatan nilai-nilai kemanusiaan. Output-nya adalah orang yang sudah pada posisi ini sudah melihat orang lain, apapun suku, agama dan model dan bentuknya sebagai ciptaan dan pengejawantahan dari Tuhan. Tidak punya lagi ke-Aku-an karena sudah ‘lebur’ bersama Tuhan. Seperti Gusdur pernah bilang “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.” Segalanya, setelah berbagai usaha yg dilakukan, dikembalikan kepada Allah.

Sebagai penutup. Ada sebuah kisah yang bisa kita ambil pelajaran. Kisah ini adalah percakapan anak dan bapak. Anaknya bernama Imam Hasan bertanya kepada ayahnya Ali bin Abi Thalib. Imam Hasan bertanya kepada ayahnya apakah ia mencinta ibunya, yaitu Fathimah Azzahra? Imam Ali menjawab, Iya, aku mencintai ibumu. Lalu ia bertanya lagi apakah Engkau, ayahku, mencintai kami anak-anakmu? Imam Ali menjawab, Iya, tentu saja. Saya mencintaimu dan adik-adikmu. Lalu, apakah Engkau, ayahku, mencintai kakekku? Imam Ali menjawab Iya. Lalu Imam Hassan bertanya kembali. Bagaimana mungkin ada banyak cinta di satu hati secara bersamaan? Imam Ali menjawab hal itu terjadi karena ia sangat mencinta Allah. Dan Allah meminta kepadaku untuk mencintai Nabinya. Karena perintah Allah juga aku mencinta istri dan anak-anakku. Rasa cinta itu semua di kembalikan kepada Sang Maha Cinta.

Written by 

We are the IT Men of Laz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *