Mengenalkan Islam Cinta untuk Orang Tua Milenial

Mengenalkan Islam Cinta untuk Orang Tua Milenial

Bersama Habib Husein Ja’far Al Hadar

Morocco Resto, 4 Desember 2019

“Cinta itu diciptakan, sementara kebencian itu diajarkan”

Sejak awalnya, manusia itu dilahirkan dengan cinta kasih. Begitupun Islam, yang memang lahir sebagai agama rahmatan lil alamin, rahmat bagi sekalian alam, agama yang penuh rahman dan rahim, kasih dan sayang.

Begitupun seharusnya kita, sebagai duta Islam. Seharusnya kita memperkenalkan Islam sebagaimana layaknya tauladan kita,Rasulullah SAW mengenalkan Islam kepada orang lain, tidak hanya kepada umat Islam.

Rasulullah selalu menyampaikan dakwahnya dengan cinta, termasuk kepada orang yang menghujatnya. Baik kepada yang beragama Islam, maupun yang bukan beragama Islam. Rasulullah tidak pernah memaksa seseorang untuk mengikuti ajarannya., karena tugasnya hanyalah menyampaikan. Jika seseorang tidak mau mengikuti ajarannya, Rasul selalu optimis bahwa mungkin anaknya atau cucunya yang akan mengikuti ajarannya. Rasulullah juga tidak pernah mengafirkan orang lain. Rasulullah tidak pernah menunjuk sesuatu atau orang lain dengan satu tangan, melainkan dengan seluruh tangannya. Rasulullah tidak pernah menolehkan kepalanya saja ketika berbicara dengan orang lain, kecuali dengan  meolehkan seluruh tubuhnya. Dan yang paling istimewa, Rasulullah tidak pernah hadir, kecuali untuk menghadirkan kegembiraan kepada orang-orang di sekitarnya.

Lisan Rasulullah selalu indah, karena pada dasarnya beliau lahir dengan penuh cinta kasih. Mimik wajahnya selalu diatur. Tak pernah membenci apalagi melukai hati orang lain. Mata Rasulullah sangatlah adil. Karena itu satu-satunya manusia yang jika kita puji, tetapi malah menjadikan kita orang yang terpuji adalah Rasulullah.

Begitulah seharusnya Islam disebarkan. Semua yang keluar dari mulutnya adalah cinta sebagaimana Rasulullah. Segala sesuatu yang bersumber dari cinta, pasti keluarnya akan indah. Semakin banyak beribadah, seharusnya semakin rendah hati dan sadar bahwa kita hanyalah hamba-Nya Allah. Semakin banyak beribadah, seharusnya memastikan kita semakin menjadi pribadi yang Islami, penuh cinta kasih agar orang lain tertarik dengan Islam. Orang-orang yang ingin masuk Islam, mayoritas karena melihat keteladanan Rasulullah, terutama pribadi yang mengesankan dari diri Rasulullah.

READ  Seminar & Launching buku karya Haidar Bagir (Ketua Yayasan Lazuardi) : "Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia"

Kata-kata maupun nasihat yang keluar dari mulut kita tanpa keteladanan tidak akan meresap dalam hati yang mendengarnya, apalagi anak-anak atau murid-murid kita. Inti dari pesan yang kita sampaikan  adalah kesan yang sampai ke dalam hati pendengarnya.

Mengajarkan adab adalah dengan kita beradab terlebih dahulu. Jangan karena perbedaan, persaudaraan kita menjadi tergadaikan. Siapapun mereka, carilah persamaan dengannya hingga muncul cinta kasih di antara kita.

Begitupun cara mengajarkan anak-anak maupun murid-murid kita. Selalu ajarkan mereka dengan cinta kasih, kelembutan, dan kesabaran. Sesalah-salahnya anak adalah tetap anak kita. Sesalah-salahnya murid adalah tetap murid kita. Kita wajib tetap menyintai anak ataupun murid kita betapapun besarnya kesalahan mereka. Jika cinta sudah hilang dari diri kita sebagai orang tua maupun guru, maka jangan harap akhirnya menjadi indah.

Jadi kuncinya adalah keikhlasan dan kerendahan hati, insya Allah, Allah akan membukakan jalannya. Anak-anak harus diajarkan dengan pengertian, tidak bisa dengan cara didikte. Suara tidak boleh tinggi, agar ego kita tidak semakin naik. Allah selalu mengajarkan 2 hal dengan 2 hal. Yaitu mengajarkan Islam dan ketaqwaan dengan kegembiraan dan kemudahan.

Bagi Allah esensi dari ibadah dan keIslaman kita adalah bukan dari banyaknya ibadah yang telah kita lakukan, namun sejauh mana hati kita tunduk kepada Allah dan sebaik apa perilaku kita terhadap orang lain.

Akhirnya, ibadah yang teragung menurut Allah adalah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang-orang yang hancur hatinya. Sesungguhnya jika kita berbuat baik, kebaikan itu akan kembali kepada kita. Sudahkah kita melakukan itu? Sudah kita mengikuti keteladanan dari Rasulullah ? Jangan bertanya pada orang lain, karena sesungguhnya hanya kita yang paling tahu jawabannya.  (Anggraini)

READ  Belum Banyak Yang Paham Pembelajaran Berbasis STEM

This slideshow requires JavaScript.

admin

We are the IT Men of Laz

Leave a Reply

Close Menu