Nelusurin Sejarah, Mungutin Sampah

Nelusurin Sejarah, Mungutin Sampah

Pada hari Minggu tanggal 29 September 2019 lalu, anak-anak SMA Lazuardi mengikuti kegiatan seru “Nelusurin Sejarah, Mungutin Sampah” di bawah jembatan Panus Depok. Mengapa harus jembatan panus? dan apa hubungannya sejarah jembatan panus dengan mungutin sampah?

Jembatan panus terletak di Jalan Tole Iskandar Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas. Jembatan Panus sendiri diperkirakan sudah berumur lebih dari satu abad (1917) dan telah dinobatkan sebagai situs sejarah kota Depok. Selain itu di bawah jembatan Panus terdapat bagian hulu sungai Ciliwung yang mengarah dari Depok ke Jakarta. Dahulu jembatan Panus dibuat oleh seorang budak Belanda yg bernama Stephanus Leander. Karena yang menangani pengerjaan di lapangan adalah mandor Stephanus Leander, maka bangunan jembatan tersebut dikenal sebagai Jembatan Panus lantaran diberikan berdasarkan nama mandor tersebut. Akan tetapi untuk kemudahan lafal, nama itu disingkat menjadi Panus. keterangan tersebut saya dapatkan dari seorang budayawan terkenal yg bernama JJ Rizal sebelum kegiatan mungutin sampah di sekitaran bawah jembatan Panus.

Mengapa harus mungutin sampah? Jika anda ke sana, anda akan melihat banyak sekali tumpukan sampah warga sekitar Depok dan sampah bawaan yang dibawa oleh warga Bogor. Hal tersebutlah yang membuat prihatin, khususnya bagi kalangan aktivis lingkungan, budayawan dan sejarahwan kota Depok. Untuk itu mereka membuat kegiatan untuk membersihkan kali di bawah jembatan Panus sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya situs sejarah yang perlu di lestarikan.

Dalam kegiatan ini aktivis lingkungan turut mengundang beberapa siswa SMA/SMK
Di kota Depok dan salah satunya SMA Lazuardi. Banyak dari anak-anak sangat senang dan tertantang pada kegiatan ini. Selain itu kegiatan ini membuat mereka sadar pentingnya untuk membuang sampah pada tempatnya serta pengelolaan sampah.

Banyak dari mereka yang membantu dalam pengambilan sampah di sekitaran kali, yang dipenuhi dengan sampah plastik seperti bungkus mie instan, kantong kresek, botol air minuman, hingga diapers bekas.

Menurut anak-anak kegiatan ini sangatlah menyenangkan dan berharap agar kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara rutin, agar masyarakat sadar akan dampaknya sampah dan tidak hanya mengeluh tentang bencana alam seperti banjir, longsor, dan lain-lain, tetapi mereka melupakan satu hal, yakni lupa jika bencana tersebut terjadi salah satunya karena ulah tangan kita sendiri.

Yuk buang sampah pada tempatnya, sadar akan bahaya sampah dan lestarikan situs sejarah kota kita!

admin

We are the IT Men of Laz

Leave a Reply

Close Menu