PENDIDIKAN DAN DUNIA YANG TERMESINKAN

PENDIDIKAN DAN DUNIA YANG TERMESINKAN

Oleh-oleh dari acara seminar pendidikan yang diisi oleh pak Haidar Bagir dan Pak Iwan Pranoto

  “SEKARANG BUKAN ANAK-ANAK YANG MENGEJAR PENGETAHUAN TAPI ANAK-ANAK KELELAHAN DIKEJAR-KEJAR PENGETAHUAN” 

(BERNARD SHAW)

 Kata-kata di atas merupakan pengungkapan yang dilontarkan oleh salah satu pembicara dan penggiat pendidikan yang sudah termashyur saat diskusi berlangsung, Haidar Bagir (HB). Selain Pak Haidar,  pembicara kedua yang memiliki fokus yang sama dengan beliau adalah  pak Iwan Pranoto (IP). Acara tersebut berlangsung pada tanggal 15 November 2019 di Gedung Bentara Budaya Jakarta.

 Pada tema kali ini pembicara banyak mengungkapkan pendapatnya masing-masing khususnya Art Intelegent (AI) yang sedang ramai dibicarakan di masyarakat umum dan peranannya bagi dunia pendidikan. Iwan Pranoto menjelaskan dunia pendidikan kita masih bernuansa Drill and Kill. Suasana yang masih sangat amat membosankan bagi peserta didik. Baginya kasmaran belajar mesti dibangun melalui suasana Will. harus bisa selalu mencoba, eksperimentasi, gagal, gagal, gagal dan berhasil (Trial), serta kemauan dari dalam diri anak (Will).

 Lebih lanjut IP melihat tantangan dunia yang semakin termesinkan. Ia menilai, harusnya bisa dilihat dengan cepat bagaimana pola-pola dari perubahan ini terjadi dan mesti dibaca secara keseluruhan pula. Kita tidak bisa hanya membaca perubahan pada level 4.0 dan menyiapkan kurikulum yang bersinergi dengannya. Jika itu dilakukan, kita hanya sedang buang-buang waktu karena pada saat perencanaan, implementasi, evaluasi dan melahirkan perubahan pada kurikulum itu, ternyata dunia lagi-lagi sudah berganti rupa.

 Untuk itu IP memberikan insight bahwa paling tidak yang harus kita baca itu adalah pola gerak peradaban ini. Dimulai dari pertama kali peradaban mengenal mesin cetak, dimana peran ingatan manusia untuk menyimpan pengetahuan sudah tidak begitu diperlukan. Kemudian timbul era tempat penyimpanan pengetahuan bernama katalog dan seterusnya hingga sekarang.

READ  Lazuardi PEDULI LOMBOK

Hal ini diperlukan agar pendidikan tidak salah membaca kecenderungan perubahan kedepan. Era 4.0 akan tergantikan menjadi 5.0 kemudian 6.0 dan jika kita tidak bisa memahami pola gerak perubahan itu, kita lagi-lagi hanya orang yang sekedar ikut dalam trend perubahan tanpa bisa mengambil peran dalam perubahan itu sendiri.

 Kecenderungan teknologi yang banyak orang menyebut sebagai Artificial Intellegence (AI) sebenarnya menawarkan harapan tentang detail, akurasi serta efisiensi.

 Misalnya GTO (gerbang tol otomatis) dengan uang virtualnya bisa mempercepat kinerja dan mengurai antrian panjang yang sering kali terjadi karena prosedur atau urusan sepele seperti mencari kembalian atau apapun itu.

 Sementara tugas yang tidak bisa dikerjakan AI, yang justru sudah banyak hilang dari manusia, harus dikembalikan lagi kepada manusia, seperti support kepada sesama manusia, misalnya  “bapak/ibu pasti sembuh, ayo kita berdoa dan berjuang bersama”. Di sanalah makna kemanusian manusia dipulihkan kembali, ketika AI bisa dimanfaatkan sedemikian rupa.

 Sedikit berbeda dengan IP, Haidar Bagir justru sangat berhati-hati dengan AI yang belakangan ini mendominasi kehidupan peserta didik. Pertama-tama dalam diskusi itu ia menyebut bahwa Sekolah adalah ‘ban serep yang buruk’.

 Jadi bisa dibayangkan, institusi sekolah yang beredar sekarang, sudah lapisan kedua atau cadangan ditambah kualitasnya yang buruk. Kritik ini bukan tanpa alasan, fenomena pendidikan kita hari ini nampaknya sangat tidak berdampak apa-apa terhadap kualitas dan kesejahteraan hidup para pesertanya. Tentu saja disebabkan kualitas pendidikan yang buruk.

 Tidak matangnya pembicaraan tentang filsafat pendidikan yang berujung pada ketidak jelasan tujuan pendidikan serta serta format pendidikan kita menjadi salah satu alasan keterpurukan pendidikan kita.  Lebih lanjut beliau  menegaskan terbatasnya ruang imajinasi dalam kurikulum kita, yang justru membentuk manusia-manusia kita dalam kerangka terobotkan yang sangat mekanik.

READ  Adab Guru

 Mengenai teknologi, HB melihatnya dengan cara yang berbeda. Dengan mengambil inspirasi dari Waldorf School, yang diinisiasi oleh Joseph Steiner dan disponsori oleh keluarga Waldorf belakangan bukan hanya populer di Finlandia, melainkan juga mulai menjamur di China. Waldorf melarang penggunaan gadget dalam proses pembelajaran dan menggantinya dengan hands-on learning.

 Pendekatan seperti di atas dipilih oleh HB bukan tanpa alasan. HB menilai sudah banyak generasi sekarang kehilangan spiritualitas, khususnya dengan alam.

Baginya sudah terlalu banyak durasi anak-anak mengunakan gadget di rumah, sementara di sekolah sudah waktunya anak-anak didekatkan pada proses belajar yang lebih banyak melibatkan tenaga fisik dan berorientasi kepada alam.

 Berbanding terbalik dengan pernyataan Stephen Hawking yang menyebut kiamat umat manusia justru datang karena dominasi Artificial Intellegence (AI), HB malah melihat kehadiran AI justru bisa membuka ruang bagi lahirnya manusia-manusia yang lebih luhur, yang mengunakan daya imajinatif, intuitif dan moralnya.

 Antara IP dan HB pada akhirnya hanya menyisakan perbedaan yang tidak signifikan antara dunia dan peradaban yang termesinkan ini. Seperti yang diakui HB bahwa “Kita berangkat dari pijakan yang berbeda. Pak Iwan berangkat dari rasionalistik sementara saya berangkat dari sisi yang berlawanan.” Berbeda pijakan bukan berarti keduanya bertentangan satu sama lain. Pada suatu level keduanya bertemu di titik tertentu yaitu keseimbangan. (Sinta Fatimah)

admin

We are the IT Men of Laz

Leave a Reply

Close Menu