SHARING KONSEP MERDEKA  BELAJAR

SHARING KONSEP MERDEKA  BELAJAR

Oleh : Agus Purwanto (Kepala SMA Lazuardi)

 

Tanggal 14 Desember 2019, Saya mendapat undangan dari salah satu Pimpinan Daerah Muhammadyah Jakarta untuk menjadi pembicara bersama  Dekan FIP Universitas Muhammadyah Jakarta (UMJ)  di  Gedung Training Centre  UMJ  Cirendeu  untuk  pembinaan para Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah Muhammadyah  se- Jakarta Selatan. Dekan   FIP Universitas Muhammadyah Jakarta (UMJ) mendapat tugas menyampaikan materi mengenai implementasi  Diklat  penguatan Kepala Sekolah,  sedangkan Saya  mendapat tugas membawakan materi mengenai  tindak di lapangan kaitan pengelolaan sekolah  termasuk  wacana  perubahan arah pendidikan  dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Saya sempat merasa kesulitan memahami maksud dari materi yang harus saya berikan. Akhirnya, saya mendapat ide menyampaikan topik yang sedang hangat disampaikan oleh Mas Menteri mengenai Kemerdekaan Belajar  dan implementasinya di SMA Lazuardi. Kemudian ide tersebut saya sampaikan ke panitia, kemudian di sambut dengan baik oleh mereka. Saya turunkan pemahaman saya mengenai Kemerdekaan Belajar ke filepresentasi yang disampaikan oleh penggagas Merdeka Belajar  yaitu Bu Najella Shihab saat peluncuran buku baru Bapak Haidar Bagir berjudul “Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia” di auditorium gedung Kemendikbud beberapa saat lalu.

 

Merdeka Belajar.

Merdeka Belajar menurut Bu Najella Shihab adalah Bukanlah  belajar tanpa aturan. Merdeka belajar dapat membuat siswa berdaya, belajar, gemar belajar dan dapat melakukan banyak hal belajar di kelas. Merdeka Belajar menurut Pak Nadiem Makarim bukan hanya Kebebasan Mengajar. Namun, belajar yang dapat mengembangkan kemerdekaan berfikir siswa. Esensi kemerdekaan berfikir harus terlebih dulu dimiliki oleh guru. Tiidak akan mungkin siswa memiliki kemerdekaan belajar jika gurunya belum memiliki kemerdekaan belajar.

 

Empat Kunci Pengembangan Guru yaitu  Kemerdekaan belajar,  Kompetensi, Kolaborasi, pengembangan Karier.

Pertama, Kemerdekaan Belajar. Pendidikan di Indonesia berada pada fase gawat darurat karena hilangnya kemerdekaan para guru.  Saat pertama kali guru diwawancara, hampir semua calon guru mempunyai cita-cita yang mulia. Namun, setelah diterima sebagai guru dan kemudian mengajar di kelas, semua cita-citanya sulit dilaksanakan dikarenakan guru-guru tidak memiliki kemerdekaan untuk merealisasikan cita-cita mulianya, harus mengikuti instruksi tanpa memiliki otonomi. Ujung-ujungnya jika mengalami kegagalan maka akan saling menyalahkan yang menandakan para guru tidak memiliki kemerdekaan. Guru harus memiliki komitmen pada tujuan pendidikan yaitu untuk hidup dan memuliakan manusia sejati.

READ  Workshop Bahasa Isyarat di Ajang Lazuardi Festival 2019

 

Kedua, Kompetensi. Kompetensi bukanlah sekedar persoalan Individu. Kompetensi adalah potensi individu yang didukung oleh ekosistem yang lain. Guru yang merdeka belajar adalah kunci keberhasilan pendidikan. Sebelum bicara kompetensi, guru harus terlebih dahulu diberikan kemerdekaan, yaitu guru yang bisa melakukan banyak hal di kelas. Masalah dalam sistem pendidikan kita adalah rendahnya kompetensi guru, yang hanya bisa diselesaikan jika guru merasa merdeka. Banyak guru merasa bahwa tugas utama mereka hanyalah mengajar, padahal faktanya guru juga punya tugas belajar karena kompetensi terkait dengan belajar. Kompetensi bukanlah standarisasi dan bukan hasil dari ujian yang diikuti oleh siswa.  Namun sayangnya saat ini, kompetensi disimplifikasi berdasarkan dari hasil ujian.

 

Upaya Pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru melalui Uji kompetensi guru ternyata tidak terlalu berdampak bagi pengembangan kompetensi guru.  Guru hanya berhasil sedikit dalam menjalankan  perannya sebagai guru. Kemerdekaan guru untuk meningkatkan kompetensi dimatikan oleh sistem. Akhirnya, ada beberapa sekolah yang terpaksa melanggar aturan pemerintah agar dapat memberikan pelayanan terbaik pada siswa.

 

Ketiga, Kolaborasi. Sekolah harus membangun ekosistem merayakan sesuatu yang baik agar terbina kolaborasi. Kolaborasi antar sesama guru sangat dianjurkan agar bisa saling belajar.  Kita butuh kerja sama antar sesama guru dan profesi non guru agar saling mempengaruhi. Perubahan pendidikan tidak hanya digerakkan oleh orang pendidikan saja. Kolaborasi diharapkan  bisa menggerakan perubahan secara bersama sama.

 

Keempat, Mengembangkan karir. Guru bisa mengembangkan karir, sebagai pengajar guru lain, sebagai penulis.  Pengembangan karir dapat memanusiakan guru dan penguasaan konsep.

 

Miskonsepsi Pendidikan

Adanya miskonsepsi menjadi penyebab reformasi pendidikan sulit direalisasikan. Beberapa miskonsepsi Pendidikan sebagai berikut :

1.Guru mau belajar jika ada insentif, harusnya Guru belajar karena Kebutuhan Alamiah.

READ  Sudah Mantapkah Pilihan Universitas dan Jurusanmu?

2.Guru hanya bisa belajar dari para ahli (pakar pendidikan), padahal Belajar paling efektif adalah dari sesama guru yang lain.

3.Guru belajar hanya cukup tau “how to”, harusnya Guru mengetahui “Mengapa dan Apa Tujuannya”.

4.Guru belajar diburu Target yang dipaksakan, harusnya Guru belajar membutuhkan cukup Waktu.

 

Pendidikan Yang Merdeka

Pertama, Komitmen. Pada saat bicara Komitmen sebenarnya kita sedang bicara komitmen pada tujuan, namun komitmen pada tujuan sangat sulit untuk direalisasikan.  Salah satu tantangan kita saat ini adalah sulitnya membedakan cara dengan tujuan. Kita terjebak pada tugas-tugas adminsitratif, terjebak pada ketentuan-ketentuan birokrasi, peraturan Ujian, dokumen akreditasi, rumitnya proses penilaian. Sebetulnya semua itu hanya cara, namun yang terjadi adalah malah menjadi tujuan dan menjadi prioritas utama, bahkan lebih tinggi dari prioritas dan tujuan pendidikan nasional itu sendiri atau prioritas kita masing-masing.

 

Kedua. Kemandirian. Kemandirian adalah kemampuan seseorang untuk mewujudkan suatu keinginan atau kehendak tanpa meminta bantuan orang lain. Kemandirian merupakan salah satu sikap yang wajib dimiliki oleh seorang guru karena mendasari keberhasilan sebuah pendidikan. Bagaimana tidak, gurulah yang menjadi sentral pelaksana pendidikan. Sebagai pelaksana pendidikan guru mempunyai tugas yang sangat penting yaitu bertugas membimbing dan mengarahkan peserta didik agar bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.

 

Dasar utama guru mandiri adalah memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan yakin bahwa dirinya mempunyai potensi luar biasa dan tidak dimiliki oleh sembarangan orang. Jadi sebagai guru jangan sekali-kali minder atau merasa tidak mampu karena sesungguhnya perasaan-perasaan seperti itu hanya akan menjadi penghalang besar untuk menghantarkan anak didik menuju gerbang keberhasilan. Guru mandiri harus mempunyai rasa tanggung jawab yang besar terhadap segala tugas yang diberikan. Tugas utama seorang guru adalah menciptakan suasana atau iklim proses pembelajaran yang dapat  memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan bersemangat.

READ  “Unterricht mit Jugendlichen” vom 18-20 November, 2019 in Bangkok, Thailand

 

Ketiga.  Refleksi. Refleksi juga mudah dikatakan, tetapi sulit dilakukan. Sebagian dari kita cenderung menutup mata, menolak untuk melihat cermin dengan 1001 alasan. Kita bilang masyarakat belum faham, anak tidak mengerti, orang tua akan menentang. Padahal sebenarnya, itu semua merupaka alasan dari ketakutan diri kita sendiri untuk menuju perubahan.

 

Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia

Pak Haidar menyampaikan bahwa Sistem persekolahan saat ini dianggap banyak menghambat perkembangan kreativitas siswa.  John Holt  dalam bukunya “How children fail ?” menyampaikan bahwa kegagalan akademis siswa bukanlah akibat tidak adanya/ kurangnya upaya oleh sekolah, melainkan justru akibat ‘ulah’ sekolah. Tujuan pendidikan adalah melahirkan warga yang baik. Ujung dari proses pendidikan adalah melahirkan manusia yang berbahagia. Memberi alternatif pada sekolah untuk mendidik siswa sesuai passionnya. Jika anak merasa senang berada di sekolah dan belajar namun tidak terasa sedang belajar maka sekolah tersebut dikategorikan sebagai sekolah yang bagus.  Sekolah harus menjadi tempat yang fun agar anak-anak betah berada di sekolah.

admin

We are the IT Men of Laz

Leave a Reply

Close Menu