SMA Lazuardi  hanya  berorientasi pada Sisi Akademis??

SMA Lazuardi hanya berorientasi pada Sisi Akademis??

Oleh : Agus Purwanto

Beberapa hari lalu ada yang memberi nasehat agar SMA Lazuardi jangan terlalu berorientasi pada sisi akademik. Sayangnya statemen ini disampaikan oleh pihak yang tidak terlalu memahami kebutuhan pendidikan dan pengajaran yang ada di tingkat SMA. Dimana, anak anak SMA setelah lulus akan berhadapan dengan seleksi Perguruan Tinggi yang menuntut kemampuan akademik.

Seleksi Perguran Tinggi baik Negeri maupun Swasta selalu diawali oleh tes akademik untuk memilih calon mahasiswa yang memiliki kompetensi yang mumpuni. Apalagi Perguruan Tinggi Negeri yang menyeleksi calon mahasiswanya dalam bentuk record nilai raport akademik dan tes akademik. Alhamdulillah daya serap anak anak SMA Lazuardi ke Perguruan Tinggi Negeri di tahun ajaran 2018/2019 mencapai 61 % yang tersebar di berbagai Perguruan Tinggi ternama seperti UI, UnPad, UPI, Un Dip, UniBraw, UnAir, ITS, UNS, UPN, UN Malang, UIN, PNJ.

Namun, apakah SMA Lazuardi melulu berorientasi pada sisi akademik ?

Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan paparkan beberapa hal yang membuktikan bahwa SMA Lazuardi tidak melulu berorientasi pada sisi akademik. Beberapa minggu yang lalu sekolah mengadakan kegiatan terbesar di SMA Lazuardi yang disebut dengan Lazuardi Festival yang dikelola oleh siswa-siswi kelas XI.  Lazuardi Festival sangat menggambarkan kegiatan non akademik karena siswa belajar bukan saja menjadi pengelola event yang cukup besar namun juga sebagai producer, pengelola sekaligus pengisi acara dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Diantara agendanya adalah Lomba Olah Raga (Basket, Futsal, Taekwondo, E-Sport), Seni (Band, Solo Vocal, Fotography), Keagamaan (Tahfiz, Cerdas Cermat Islami).  Pesertanya adalah 10 SMP dan 30 SMA/SMK Se-Jabodetabek, bekerjasama dengan 18 Perusahaan dalam memperoleh sponshorship untuk mendukung pembiayaan acara, di mana anak belajar melakukan lobbying, bekerjasama juga dengan 14 tenant (pedagang) yang  menjual sandang dan pangan di bazar yang diadakan, dan juga bekerja sama dengan (PMI) Palang Merah Indonesia untuk program donor darah. Selain itu, anak-anak juga menuangkan bakat mereka dari sisi non-akademis, seperti menjadi MC (Master of Ceremony), Monolog, Jimbe, Tari Smaradhana, Band yang membawakan Theme Song karya mereka sendiri, dan Drama Visualisasi puisi.  

READ  Ada lagi yang baru di SMA Lazuardi!

Dalam keseharian pun, banyak hal-hal non- akademik yang dikembangkan dalam diri anak-anak, seperti bermain musik, menari dan lain-lain,  misalnya di saat welcoming day (penyambutan siswa baru), program lifeskills , penyambutan tamu, pembagian raport, dan wisuda. Selain itu, anak-anak juga selalu disertakan dalam lomba non-akademik yang diadakan di tingkat Kota, Provinsi, dan Nasional.  Mereka pun sering meraih prestasi dari lomba musik dan seni serta olah raga.

Bahkan dalam Proses belajar di kelas, guru-guru dalam mengembangkan kemampuan akademik juga menggunakan cara atau metode pendekatan yang menyenangkan seperti  dengan presentasi, debat, drama, kerja kelompok dan lain-lain.  Guru-guru juga meminimalisir metode ceramah yang hanya  satu arah.  Metode mengajar yang variatif, seperti pembuatan project, melakukan percobaan di laboratorium, mempraktikan materi keagamaan, bernyanyi, role play (bermain peran), dan berdiskusi  diyakini  dapat membuat anak lebih senang dalam belajar dan merangsang berbagai kecerdasan yang ada pada siswa.

Sekali lagi kami sampaikan bahwa SMA Lazuardi dalam kegiatan belajar-mengajarnya selalu berupa ya untuk menjadikan anak-anak belajar dengan senang.  Sma Lazuardi tidak hanya berfokus pada pengembangan masalah akademis saja, tetapi sisi non-akademisnya pun dipentingkan.

admin

We are the IT Men of Laz

Leave a Reply

Close Menu