Testimoni orang tua siswa bahwa Lazuardi sudah menerapkan 21 st century skills, welas asih dan positive discipline.

Oleh : Bpk. Agus Purwanto (Kepala Sekolah SMA Lazuardi)

Pagi ini saya membuka Face book dan seperti biasa membaca status teman teman FB. Ada hal yang membahagiakan ketika membaca beberapa status dari orang tua salah seorang siswa baru yang bergelar Doktor dan ahli dalam pendidikan tersebut dengan status positifnya mengenai pengalaman dalam satu minggu anaknya bersekolah di Lazuardi.

Berikut ini status :
“21’rst century skills
Makasih dah masukin Kaka ke Lazuardi. Kata Kaka. Sudah 1 minggu dari 2 minggu masa mos. Kita diajarkan berani tampil di depan. Komunikasi di depan publik. Probem solving. Kerjasama. Kita kudu bisa nulis ilmiah. Dan smua guru bikin ppt in english. Teman teman biasa cakap english. Menyenangkan. Tidak terlalu ketat. Lanjutnya”.

Judul dari status tersebut adalah 21 st century skill.
Putri dari orang tua siswa tersebut menyampaikan beberapa hal yaitu, pertama, Lazuardi mengembangkan konfidensi siswa-siswi dengan “membiasakan diri berani tampil di depan umum dan kemampuan berkomunikasi di depan publik” melalui beragam kegiatan, diantaranya adalah kesempatan presentasi, kultum (Kuliah tujuh menit), perform musik dan tari, serta dibiasakan untuk bisa menyampaikan gagasannya di depan umum. Pengembangan kepercayaan diri untuk berani tampil di depan umum dan mampu berkomunikasi di depan publik merupakan bentuk dari kompetensi communication dalam 21 st century skill.

Kedua, “problem solving” dilakukan melalui diskusi kelompok dengan terlebih dahulu guru memberikan permasalahan aktual untuk kemudian dikumpulkan ide ide dari siswa untuk menjawab permasalahan tersebut. Pengembangan kemampuan Problem Solving atau pemecahan masalah sudah sering diterapkan oleh guru guru dalam proses Belajar Mengajar. Problem Solving banyak dipergunakan dalam pendekatan mengajar seperti Design Thinking, Problem Base Learning, Inquiry Based Learning yang sudah sangat familiar dipergunakan oleh guru-guru Lazuardi. Problem Solving merupakan salah satu bentuk kompetensi critical thinking/problem solving yang merupakan salah satu kompetensi yang di kembangkan di 21 st century skill.

Ketiga, “kerja sama” atau sering dikenal dengan team work merupakan hal yang biasa dikembangkan oleh guru guru melalui diskusi kelompok, project kelompok, menjadi Event organizer dalam event life skills, lomba riset baik tingkat nasional maupun internasional yang biasanya dilakukan secara berkelompok, menjadi panitia Lazuardi Festival yang sangat dominan dalam kerja tim dalam merancang konsep Lazuardi Festival dan juga bekerja sama dalam mencari sponsor untuk mendukung kegiatan tersebut. Kerja sama merupakan kompetensi Collaboration yang dikembangkan di 21 st century skill.

Keempat, “kudu bisa nulis ilmiah”, Lazuardi sejak awal berdiri sudah mencanangkan dirinya sebagai school of research. Hal yang mendukung mimpi tersebut adalah melaksanakan kegiatan Karya Ilmiah yang dilaksanakan dalam satu semester. Biasanya karya terbaik dari Karya Ilmiah tersebut dijadikan modal untuk mengikuti lomba karya ilmiah baik di tingkat Nasional maupun Internasional yang sudah membuahkan 38 medali dari Lomba Riset tingkat Internasional. Menulis Karya Ilmiah merupakan bentuk pembelajaran level tinggi atau yang disebut dengan Higher Order Thingking Skills yang melibatkan sekian banyak kompetensi yang dibutuhkan dalam 21 st century skill, yaitu pertama, Kemampuan Literasi yaitu Membaca, Literasi ICT, Literasi Numeracy, Literasi Finansial. Kedua, Kompetensi Critical Thingking/Problem Solving, Creativity, Communication, Collaboration. Ketiga, Character yaitu Curiousity, inisiatif, ketangguhan dan kegigihan.

Kelima, “Menyenangkan”, merupakan bagian dari pengembangan program Sekolah Welas Asih yang digagas oleh Ketua Yayasan Lazuardi, Dr. Haidar Bagir, M.A dan pak Irfan Amalee konsultan Compassionate School. Lazuardi akan terus melaksanakan program pendidikan dan pengajaran dalam suasana yang menyenangkan.

Keenam, “Tidak terlalu ketat”, merupakan bagian dari aplikasi dispilin positif yang sedang dikembangkan di lingkungan Lazuardi. Disiplin positif merupakan proses pendisiplinan siswa siswi tanpa konsekuensi hukuman. Setiap siswa yang melakukan pelanggaran akan diminta solusinya dari siswa yang melakukan pelanggaran tersebut untuk bisa diterapkan dan meminimalisir pelanggaran bahkan diharapkan benar benar dapat meninggalkan pelanggaran tersebut dan beralih menjadi siswa yang disiplin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *