Workshop Bahasa Isyarat di Ajang Lazuardi Festival 2019

Selasa, 19 Februari 2019, SMA Lazuardi GCS mengadakan rangkaian Lazuardi Festival 2019 yang tahun ini dikoordinir oleh kakak kelas 11 atau angkatan Unicrementum. Pada rangkaian acara di hari ke 2 ini,  Lazuardi Festival mengadakan Workshop Bahasa Isyarat dengan mengundang Ibu Dhita Indriyanti dari Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (PUSBISINDO) sebagai pembicara utamanya.

Workshop Bahasa Isyarat memiliki arti bahwa sebagai anak-anak tuli, mereka pun juga membutuhkan suatu tempat untuk berkumpul dan bersosialisasi bukan hanya kepada anak tuli lainnya, namun juga terhadap anak yang memiliki pendengaran yang normal. Maka dari itu, kita membutuhkan sebuah bahasa yang bisa digunakan untuk bersosialisasi baik kepada anak tuli maupun tidak. Yaitu Bahasa isyarat yang di mana bahasa tersebut bukan hanya dipahami oleh anak tuli saja, namun juga bisa dimengerti, dipelajari, dan dipahami dengan baik.

Acara pertama dibuka oleh Kak Ifa dan sambutan dari Kak Akila yang menyampaikan bahwa, “Kita dibiasakan berbaur bersama anak-anak yang memiliki keistinewaan di Lazuardi ini, acara ini sesuai dengan tagline sekolah yang mengusung Compasionate atau Welas Asih yaitu saling menyayangi” .

Workshop ini dihadiri oleh beberapa tamu undangan dari sekolah seperti Madania, Milennia World School, Lazuardi GCS Cinere, Cakra Buana, dan lainnya serta tamu khusus lainnya dan masyarakat SMA Lazuardi GCS. Workshop ini juga dimeriahkan oleh penampilan dari salah satu Siswa kelas X SMA Lazuardi GCS yaitu Muhammad Helmi Sanditaputera yang memainkan alat musik Saksofon dengan ditemani oleh Rajendra Gafra, salah satu Siswa kelas XI. Tidak hanya dari Helmi dan Gafra, workshop ini juga dimeriahkan oleh penampilan dari salah satu siswi dari SMP Lazuardi GCS Cinere yaitu Farah yang memainkan alat musik Keyboard dan salah satu siswi dari SMP Cakra Buana yang menyanyikan lagu “Laskar Pelangi”.

Ibu Dhita Indriyani (40 tahun) , selaku pembicara utama di workshop ini telah menderita tuli sejak lahir. Beliau menikah dengan pria normal yang kini bekerja sebagai ojek online. Ibu Dhita dalam workshopnya minggu lalu mempraktikan cara mengucap dan menjawab salam, lalu mengajarkan abjad, dan kita para penonton mempraktikannya.

Menurut Bu Dhita, orang yang memiliki gangguan pendengaran akan terganggu bicaranya tetapi orang yang sulit berbicara belum tentu pendengarannya terganggu. Pentingnya Bahasa Isyarat adlah agar anak tuli bisa bersosialisasi dan berbicara dengan orang lain. Gangguan pendengaran dapat diketahui sejak di dalam kandungan, saat lahir dan pasca lahir (jatuh). 

Oh ya, dari Forum Bisindo  ternyata ada yang menjadi penerjemah saat Debat ke 2 Presiden loh, keren ya!

 Bu Fitri , orthopedagog SMA Lazuardi yang merupakan penanggung jawab workshop ini juga berperan sebagai JBI atau Juru Bahasa Isyarat, yaitu orang normal yang bisa berbahasa isyarat.

Beliau mempraktikan bahasa isyarat versi SIBI yang ternyata lebih sulit dan rumit.

Selama workshop, Kita juga mendapat kesempatan untuk bermain game. Gamenya melatih visual.

Di akhir wprkshop Ibu Dhita berpesan  bahwa “tuli dan normal kita harus bersatu, kita hanya tuli, tetapi fisik kita bagus dan sehat.” (Delziba Zahra & Arsa Hanif).

admin

We are the IT Men of Laz

Leave a Reply

Close Menu